Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Tips Persiapan Mendaki Gunung

Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah kegiatan yang tidak berguna. Selain kedinginan dan kelelahan, risiko yang bakal dihadapi juga cukup besar. Banyak cerita para pendaki gunung yang tewas karena berbagai hal. Di antaranya jatuh ke jurang dan mati kedinginan.

Namun, bagi para petualang mendaki gunung menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan. Di sini, mereka bisa berjalan menusuri rimba, melewati jurang yang terjal, dan mendaki bukit. Dengan aktivitas ini pemandangan alam yang tergelar di jagad raya bisa dinikmati dengan puas.

Sebelum melakukan pendakian sejumlah persiapan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Perbekalan, perlengkapan, dan yang penting badan yang sehat.

Dan, untuk mendapatkan perlengkapan pendakian saat ini banyak toko yang khusus menjual itu. Tinggal pilih sesuai dompet, mau merek lokal atau asing.

Ada tas punggung besar (carril), kantong tidur (sleeping bag), topi gunung, dan sandal gunung.

Persiapan Pendakian Gunung
Bagi para petualang, mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, dengan melakukan kegiatan ini, maka seseorang bisa menyaksikan keindahan alam yang luar biasa di puncak gunung. Belum lagi dengan pemandangan yang bisa ditemui di sepanjang jalur pendakian.

Namun mendaki gunung tetap memerlukan persiapan khusus, baik teknis maupun fisik. Sebab jika tidak, maka bisa jadi mendaki gunung akan menjadi kegiatan yang sangat tidak menyenangkan.Bahkan lebih dari itu, tanpa persiapan khusus, seorang pendaki bisa mengalami celaka.

Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:
1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter (Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut), atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.
2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.
3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.
4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.
5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.
6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.
7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Kesiapan Mental
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya. Untuk mengetahui keadaan mental seseorang dalam kondisi fit atau tidak memang tidak mudah. Tentunya yang lebih memahami keadaan mental ini adalah diri kita sendiri. Kesiapan mental secara pribadi akan sangat berpengaruh pada kondisi tim. Jika kesiapan mental tidak dalam kondisi fit alangkah baiknya jika tidak memaksakan diri.

Kesiapan Fisik
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan (sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya). Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Beberapa perlengkapan atau bekal yang harus dibawa saat mendaki gunung adalah :
* Carriel atau tas besar untuk menampung seluruh perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan
* Matras. Fungsinya adalah untuk alas duduk saat beristirahat sejenak.Matras juga bisa digunakan untuk pelapis di dalam carriel agar terlihat lebih rapi.
* Jas hujan. Alat ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi jika turun hujan saat pendakian. Sebab seringkali cuaca di gunung kurang bersahabat dan turun hujan yang cukup lebat.
* Tenda.Alat ini digunakan ketika para pendaki hendak beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Tenda juga bisa melindungi para pendaki saat terjadi hujan atau angin kencang.
* Kantung tidur atau Sleeping bag.Alat ini berfungsi untuk menyelimuti saat tidur di gunung.Selain itu juga bisa digunakan sebagai alas tidur.
* Alat penerangan, seperti senter, lilin, batere cadangan, lampu badai. Dengan adanya alat penerangan yang memadai, maka kegiatan mendaki di malam hari bisa berjalan dengan lancar.
* Topi, sarung tangan, kaos kaki tebal, sepatu khusus. Sepatu khusus ini diperlukan karena medan di pegunungan beda dengan medan di daerah yang datar sehingga memerlukan sepatu yang khusus.
* Pakaian hangat seperti jaket, kaus lengan panjang dan celana panjang kasual dengan bahan yang kuat dan nyaman pakai.
* Alat-alat P3K, suplemen makanan, makanan instan/kalengan, dan minuman mineral. Ketersediaan makanan yang cukup akan mampu memberikan energi yang cukup pula saat mendaki.
* Golok tebas, pisau lipat, dan teropong. Yang tidak kalah pentingnya adalah alat perekam (kamera atau handycam) untuk mendokumentasikan kegiatan selama pendakian

Kesiapan Administrasi
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.
Kesiapan Ketrampilan dan Pengetahuan
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC (emergency medical care) praktis.

http://www.cartenzadventure.com/Tips-Persiapan-mendaki-gunung.html

Persiapan Pendakian Gunung

Banyak remaja sering mengisi waktu liburan dengan naik gunung. Namun, karena ketidak-tahuan, kegiatan fisik berat itu sering tidak disiapkan dengan baik.Padahal, mendaki gunung ditentukan oleh faktor ekstern dan intern, dan kebugaran fisik mutlak diperlukan.


Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu tergila-gila naik gunung. *Because it is there, *ujarnya. Jawaban itu menggambarkan betapa luas pengalamannya mendaki gunung dan bertualang. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.


Anggota-anggota Mapala Universitas Indonesia-kelompok pencinta alam tertua (bersama Wanadri Bandung) di Indonesia-contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. Dalam halaman awal buku pegangan petualangan yang dimiliki seluruh anggotanya tertulis, Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung.


Yang jelas, tidak seorang petualang alam-komunitas di Indonesia lebih senang menggunakan istilah pencinta alam-melakukan kegiatan itu dengan alasan untuk gagah-gagahan. Karena bukan untuk gagah-gagahan, maka sebaiknya tidak ada istilah modal nekad dalam mendaki gunung.


Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin,kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik.


Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa. Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung. Pertama, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki. Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.


Tidak ada seorang pendaki pun yang dapat mengatur bahaya objektif itu. Namun dia dapat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan itu. Diri pendaki, segala persiapan, dan kemampuannya itulah yang menjadi faktor intern, faktor kedua yang berpengaruh pada sukses atau gagalnya mendaki gunung.


Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif. Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.


Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak.


Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.


Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max).

Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot. Saking semangatnya, pendaki muda kerap kali ingin segera mencapai puncak,apalagi bila kegiatan itu dilakukan berkelompok. Persaingan untuk berjalan paling cepat, paling depan, dan menjadi orang pertama memijak puncak,sebaiknya ditinggalkan.


Mendaki gunung yang baik justru melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu , pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Bagaimanapun mendaki merupakan pekerjaan melelahkan. Selain itu, keindahan alam dan kebersamaan dalam rombongan, sering menggoda pendaki untuk banyak berhenti dan beristirahat di tengah jalan. Bila dituruti terus, bukan tidak mungkin pendakian malah gagal mencapai puncak. Karena itu, cobalah membuat target pendakian. Misalnya, harus berjalan nonstop selama satu jam, lalu istirahat 10 menit, kembali mendaki selama satu jam dan seterusnya. Lakukan hal ini hingga mencapai puncak atau hari telah sore untuk berkemah. Pada medan perjalanan yang landai, target waktu seperti itu dapat diganti dengan target tempat. Caranya, tentukanlah titik-titik target di peta sebagai titik beristirahat.


Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan seefektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan. Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.



Untuk menghindari beban bawaan terlalu berat, hindari membawa barang-barang yang tidak perlu. Misalnya, cukup membawa baju dan celana tiga atau empat stel meski pendakian memerlukan waktu cukup lama. Satu stel pakaian dikenakan saat berangkat dari rumah hingga kaki gunung dan saat pulang. Satu stel sebagai baju lapangan saat mendaki. Satu stel yang lain sebagai baju kering yang digunakan saat berkemah. Rain coat dan payung dapat dicoret dari barang bawaan bila telah membawa ponco. Bila telah membawa lilin, cukup membawa batu batere seperlunya untuk menyalakan senter dalam keadaan darurat. Piring dapat ditinggal di rumah karena wadah makanan dapat menggunakan rantang memasak atau cangkir.


Bila barang perlengkapan telah terkumpul, masukkan semua ke dalam ransel. Jangan biarkan ada sejumlah barang seperti cangkir atau sandal diikat di luar ransel. Selain tidak sedap dipandang, risiko hilang selama pendakian, amat besar. Meski demikian, ada beberapa barang yang ditolerir bila ditaruh di luar ransel dan diikat dengan tali webbing ransel. Misalnya, matras karet dan tiang tenda. Namun, yakinkan, semua telah diikat dengan kencang. Menaruh barang di dalam ransel amat berbeda dengan cara memasukkan buku-buku pelajaran dalam daypack (ransel kecil yang biasa digunakan ke sekolah). Buku pelajaran, baju praktikum, kalkulator dapat kita cemplungkan begitu saja ke dalam daypack. Sebaliknya, barang-barang pendakian harus dimasukkan dalam ransel dengan aturan tertentu sehingga mengurangi rasa sakit saat memanggul dan menghindari ruang kosong dalam ransel.


Prinsip pengepakan barang dalam ransel.

1. Letakkan barang ringan di bagian bawah dan barang berat di bagian atas.

2. Barang-barang yang diperlukan paling akhir (misalnya peralatan kemping dan tidur), ditaruh di bagian bawah dan barang yang sering dikeluar-masukkan(seperti jaket, jas hujan, botol air) di bagian atas.

3. Jangan biarkan ada ruang kosong dalam ransel. Contoh, manfaatkan bagian dalam panci sebagai tempat menyimpan beras.



Untuk itu, langkah pertama mengepak perlengkapan pendakian adalah mengelompokkan barang menurut jenis, seperti:

a. pakaian dan kantung tidur,

b. alat memasak,

c. tenda,

d. makanan.


Bungkus kelompok-kelompok barang itu dalam kantong-kantong plastik agar mudah dicari. Sebagian besar pendaki menganggap, mengepak barang merupakan seni tersendiri dan kerap mengasyikkan.

http://www.arismaduta.org/persiapan-pendakian-gunung

Hobi Mendaki Gunung Bikin Tubuh Lebih Fit

Kegiatan mendaki dua puncak gunung di ekuator yang dilakukan tim E4L (Equatorial Peaks for Lupus) menunjukkan kekuatan perempuan secara fisik dan mental. Bagaimana tidak, 10 pendaki perempuan di atas 40 tahun ini terbukti berhasil mempertahankan motivasi dan semangat menuntaskan misi kemanusiaan untuk penderita lupus (odapus atau orang dengan lupus). Latihan fisik yang dilakukan tiga bulan menjelang keberangkatan menjadi modal sukses pendakian ini. Selain berhasil mencapai puncak menuntaskan misi, para perempuan matang ini juga mengaku memiliki fisik yang jauh lebih bugar dibandingkan 20 tahun silam.

Memiliki fisik yang bugar dan tubuh ideal menjadi impian kebanyakan perempuan. Inilah yang didapatkan perempuan yang tergerak menjalani misi sosial pendakian Gunung Cayambe (5.790 meter) dan puncak berapi tertinggi di dunia Cotopaxi (5.897 meter), di Ecuador, 16-31 Januari 2011 lalu. Ami KDM Saragih (46) dan Veronica Moeliono (47) adalah dua di antaranya.

"Latihan persiapan pendakian dilakukan dengan detail dan disiplin. Setelah menjalani program ini terasa perbedaannya di badan. Tubuh lebih fit saat jalan kaki menanjak dan sambil ngobrol. Saya lebih merasa fit, sedangkan teman yang tujuh tahun lebih muda saja merasa ngos-ngosan. Begitu pun yang terjadi saat jalan kaki bersama suami saya," jelas Ami yang berperan sebagai ketua tim E4L saat pendakian lalu.

Program latihan yang tepat dan dilakukan dengan baik memengaruhi kondisi fisik para pendaki ini. Manfaatnya tak hanya dirasakan saat menjalani pendakian namun juga sesudahnya. "Kondisi fisik saya lebih bagus dari 20 tahun lalu," kata Veronica saat konferensi pers bersama tim E4L beberapa waktu lalu.

Fisik yang fit dimiliki para pendaki bukan hanya pengaruh latihan fisik. Para pendaki ini juga harus terbukti sehat secara medis yang terukur dari hasil pemeriksaan kesehatan. Artinya, tubuh terbukti sehat luar dan dalam karena tak mengidap penyakit yang berisiko. Tentunya kondisi kesehatan seperti ini bisa diraih dengan menjalani pola hidup yang sehat. "Mereka yang boleh mendaki gunung adalah yang memiliki kondisi medis yang baik. Jika hasil general check up oke, mereka boleh mendaki," jelas Rachmat Rukmantara, pelatih fisik tim E4L.

Model latihan pendaki yang bikin fisik lebih fit
Latihan fisik yang diterapkan Rachmat menekankan pada kekuatan dan daya tahan fisik secara mendetail. Latihan inilah yang membuat para perempuan pendaki ini punya fisik yang jauh lebih segar dan muda:

* Fase penyesuaian
Sebagai tahap awal penyesuaian fisik, Rachmat menerapkan latihan daya tahan dengan lari seminggu tiga kali. "Lari harus dengan kondisi aerobik, intensitasnya 70 persen dari denyut nadi maksimal," jelasnya. Cara menghitung denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi usia Anda.

* Latihan kecepatan dan daya tahan
Sprint menjadi pilihan latihan untuk meningkatkan melatih kecepatan dan daya tahan. Tetapi berikan interval antara sprint dan jalan kaki. "Perempuan di atas 40 tahun memang agak sulit melakukan ini," aku Rachmat. Namun buktinya 10 perempuan pendaki ekuator sukses membuktikannya. Anda yang jauh lebih muda juga tentunya bisa menaklukkan tantangan ini bukan?

* Latihan kekuatan
Untuk melatih kekuatan fisik dilakukanlah latihan beban kepada 10 pendaki puncak gunung di ekuator ini. Latihan beban dilakukan bervariasi. Salah satunya jalan dengan menggunakan beban di kaki atau naik turun tangga dengan mengenakan beban di kaki.

"Perempuan segala usia bisa melakukan ini asalkan semua fase tersebut dilakukan bertahap dan tidak ada yang terlewatkan," kata Rachmat.

Di luar latihan wajib ini, para pendaki juga disarankan melakukan olahraga renang atau bersepeda di waktu senggang. "Tujuannya untuk menyeimbangkan latihan fisik tadi," lanjutnya.

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/11/13460090

Apa Alasan Anda mendaki Gunung?

Berbagai macam alasan ketika seseorang ditanya kenapa mendaki Gunung. Lalu jawaban Anda?

1.Because It’s There….
2.MENDAKI GUNUNG = MENGHARGAI HIDUP
3. YOU WILL NOT KNOW IF U R NOT THERE YET AND THE ANSWER IS THERE4.
4. KUTUKAN
5. karena gw ga bs berenang. klo bs berenang, mungkin gw akan lebih memilih ke laut
6. gw ga mampu beli AC tuk gw pasank dirumah biar rumah gw bisa dingin
7. PANGGILAN JIWA
8. kalo turun gunung biasanya pendekar tuh om…
9. karena saya mau naik, klo gak mau juga ngapain naik
10. untuk mengenal indonesia seutuhnya harus dengan mengenal masyarakat indonesia yang hidup di dalamnya karena itulah kami naik gunung
11. Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”(Soe Hok Gie, 1969)
12. karena ketika gw naik gunung gw merasakan nikmat yang tidak bisa diukur dengan materi…
dan melibihi dari orgasme apapun yang pernah gw rasakan…
13. dengan mendaki gunung kita dapat menyadari betapa lemahnya diri kita, betapa kecilnya diri kita dihadapan sang pencipta
dengan mendaki gunung kita belajar untuk mengenyahkan kesombongan yang ada di dalam diri kita
dengan mendaki gunung kita dapat mengetahui betapa besar kasih sayang Allah terhadap makhluk2-Nya
dengan mendaki gunung kita dapat menyadari siapa sesungguhnya diri kita
dengan mendaki gunung kita belajar untuk bekerjasama
dengan mendaki gunung kita belajar untuk mandiri
dengan mendaki gunung kita belajar untuk peka terhadap lingkungan kita
“Berdiri di puncak dunia, Menyadari betapa kecilnya kita dihadapan-Nya”
14. untuk turun lg gan…
15. Buat menafkahi batin saya gan
16. Gunung ada untuk diamati, untuk dipelajari, dan untuk dipahami…
Setelah mengerti… Hati akan terasa lebih tenang dari biasanya…. dan lebih rendah hati dari biasanya…
17.  matahari pagi jam 7an + ngopi = dahsyat
- siang hari ngadem di deket mata air ato abwah pohon = sloooww
- sore hari masak makanan di tgh hutan = unik
- malem ngrenung sendiri = syahdu
everytime is precious at mountain, that’s why.
18. mendaki gunung untuk dapat kembali pada-Nya.
19. karena tujuan manusia hidup adalah puncak
20. nyari jodoh??…..
21. mencoba manjadi bagian dari alam….
dengan mensyukuri apa yang telah dianugerahkan, dengan tetap menjaganya agar tetap lestari..
22. untuk lebih mengenal siapa diri kita sendiri, arti sebuah persahabatan, dan mengagumi kebesaran ciptaanNYa…
23. tak kan habis sebuah pemimpin di suatu bangsa jika generasi penerusnya suka berpetualang
24. karna saat naek gunung q bisa terpaku, tercenung, teringat segala kenangan yg hanya muncul saat dalam sepi dan dinginnya di gunung
25. jiwa petualang gan,,seru ngejalanin hidup di alam liar
26. karena gw sayang ama peralatan gw..
sayang uda gw beli mahal2 kagak dipake..
27. You Will Die if you still in Town..Grey Dirty Old City..

Green Fresh Nature..
28. bener2 addiktif
29. Menghilangkan kepenatan gan…menikmati indahnya dunia
30. karena saya bisa menenangkan otak fikiran saya, mengobati jiwa yg terkadang sombong, dan pastinya mengagumi ciptaan-Nya.
31. ada yang bilang, Because it’s there..
ada yang bilang, karena saya menghargai hidup..
ada yang bilang, karena saya mendapat kepuasan saat berada di puncak gunung
ada yang bilang, karena saya inginkan ketenangan..
saya bilang…

Karena pertanyaan itu tidak pernah terjawab sempurna..
32. gw cuma bsa jwb…naek gunung ja…n’ lo bakal tau jwbn’a.
33. Biar punya bahan cerita buat anak & cucu
34. intinya banyak yg kita dapatkan dari pengalaman mendaki gunung,misalkan persahabatan kita terhadap temen-temen akan teruji,mental,kekompakan,keindahan alam yg tidak akan kita dapatkan saat berada di kota,dan masih banyak lagi yg tidak bisa di artikan dengan kata-kata.
35. klo gw cuman mo cari capek
soalnya kebiasaan tidur doang di rumah
36. karna bisa boker di tempat yang tertinggi.
37. Ketika orang berkata tentang manfaat dan guna, aku berkata tentang cinta dan keindahan
38. ah, seandainya kalian tau ada apa dipuncak sana, pasti semua orang akan berbondong-bondong naik ke gunung..

tread asli dapat dilihat di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1922031

Mendaki Gunung = Menghargai Hidup

Sedikit sekali orang yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pencinta Alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, hi…!!!!!!!”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah pembual !!!!!

Peduli pada alam membuat siapapun akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang - orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak di gunung pun, kalau mau mati ya matilah…!!! Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan mengenal Columbus penemu Benua Amerika.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian. Coba deh….!!!!!!!!

cantigi.net/2008/12/mendaki-gunung-menghargai-hidup