Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 19 September 2011

Menentukan Arah Tanpa Kompas


Apabila kita berjalan tanpa kompas maka kita dapat menggunakan beberapa cara untuk menentukan arah.
1.   Tanda-tanda medan
a)   Kuburan islam selalu menunjuk arah utara.
b)   Arah masjid selalu menghadap kiblat (kiblat untuk indonesia kearah barat laut)
c)    Pohon yang berlumut tebal biasanya menujukkan arah timur.


2.   Dengan bantuan peralatan
a)   Arloji
1)   Letakkan arloji mendatar diatas telapak tangan.
2)   Arahkan angka/ titik 12 searah posisi matahari (bisa menggunakan arah bayangan  benda yang lurus dan tegak )
3)   Tarik garis khayal melalui pusat dan titik 12, sehingga terbentuk sudut antara jarum pendek dan titik 12.
4)   Buat garis pembagi sudut, hingga sudut tersebut diatas terbagi dua sama besar.
5)   Garis bagi tersebut akan menunjukkan arah utara (arah utara sebenarnya/ kutup utara bumi)
Catatan     : perhitungan ini masih dipengaruhi adanya titik pusat pembagian waktu indonesia, sehingga arah utara tidak tepat/invalid.

Gambar: Menentukan arah dengan arloji

b)   Pisau Silet
1)   Siapkan air dalam tempat yang tidak terlalu kecil dan airnya cepat tenang.
2)   Letakkan pisau silet di atas permukaan air, jangan sampai tenggelam.
3)   Tunggu sampai pisau silet diam.
4)   Arah yang ditujukkan ujung jarum adalah arah utara dan selatan.
c)    Jarum Jahit
1)   Siapkan air dalam tempat yang tidak terlalu kecil dan airnya cepat tenang.
2)   Tusukkan jarum tersebut pada gabus yang tipis.
3)   Letakkan di atas permukaan air, jangan sampai tenggelam.
4)   Tunggu sampai diam.
5)   Arah yang ditunjukkan ujung jarum adalah arah utara.
3.   Perbintangan
a)   Matahari terbit dan terbenam
b)   Bulan
-          Bulan terbit dan terbenam
-          Bulan muda, bulan pertengahan, dan bulan tua
Bulan muda : Lengkungan di sebelah kiri
Menunjukkan arah barat, waktu antara pk. 18.00-24.00
                   Bulan pertengahan : Hampir penuh
Menunjuk ke arah timur, waktu antara pk. 18.00-24.00
Bulan tua : Lengkungan di sebelah kanan
Menunjuk ke arah timur, waktu antara pk. 24.00-06.00

Keadaan masing-masing periode sekitar sepuluh hari




Bulan Muda              Bulan Pertengahan              Bulan Tua


c)    Bintang
Bintang lebih tepat untuk dijadikan patokan arah mata angin. Karena kedudukannya yang bersifat tetap. Beberapa bintang yang terletak di khatulistiwa dan cukup mudah untuk dikenali seperti Bintang Tujuh, Bintang Crux (salib / pari / gubuk penceng), dan Bintang Orion.


Secara detail masalah perbintangan dapat dipelajari dalam peta perbintangan.

Rabu, 14 September 2011

Tips Mendaki Gunung Sambil Berpuasa

Mendaki gunung, kegiatan yang membutuhkan tenaga dan stamina prima. Lalu, mungkinkah kita melakukan pendakian saat sedang berpuasa? Puasa bisa kapan saja, dalam Islam, ada puasa Ramadhan dan puasa - puasa sunah yang lain. Akankah itu menjadi penghalang? Tentu tidak, karena pada dasarnya kegiatan mendaki gunung dan petualangan tidak di larang jika sambil berpuasa dan tak membuat batal puasa kita. Paling tidak ada persiapan matang dan ada beberapa tips untuk yang berpuasa agar bisa tetap berpetualang.
Berpuasa saat libur bukan berarti tidak melakukan apa - apa. Bukan berarti diam di rumah, tidur selama mungkin, hanya menunggu azan magrib cepat datang. Itu tak salah memang. Tapi sayang, banyak waktu terbuang. Padahal saat berpuasa pun bisa melakukan bermacam aktivitas kegemaran seperti biasa, termasuk mendaki gunung ataupun aktivitas luar ruang lain yang bernuansa petualangan. Tentu porsi dan caranya berbeda dibanding saat tidak berpuasa. Butuh persiapan ekstra agar pendakian puasa anda bukan hanya sukses, pun memberi pengalaman petualangan spritual yang mengesankan.

Niat Pondasi Utama
Apapun yang anda lakukan saat berpuasa termasuk mendaki gunung, niat berpuasa menjadi modal paling ampuh untuk mempertahankan puasa anda hingga tiba waktunya. Tanamkan niat puasa anda kuat - kuat di dasar hati, pasti anda mampu membendung derasnya serbuan godaan, bahkan memberi nilai lebih puasa anda seberat apapun aktivitas yang anda lakoni.

Adaptasi
Biar tidak kaget sebaiknya beradaptasi dulu sebelum mendaki. Minimal berpuasa beberapa hari dulu atau setelah minggu pertama puasa, baru kemudian mendaki. Saat beradaptasi, sebaiknya diisi dengan olahraga kecil, pagi atau sore hari. Buat yang terbiasa puasa senin - kamis sebelum puasa Ramadhan dan tetap beraktivitas seperti biasa, tentu adaptasinya lebih mudah.

Siapkan Stamina dan Mental
Mendaki gunung saat berpuasa perlu stamina dan mental lebih, mengingat tantangannya jauh lebih berat dibanding diluar puasa. Persiapkan stamina dan mental anda seperkasa mungkin agar mampu menghadapi segala rintangan, baik yang datang dari alam, pribadi maupun orang lain.

Teman Pendakian Sejiwa
Pilih teman pendakian yang sama - sama berpuasa. Bila tidak, sebaiknya pilih teman yang menurut anda bisa menghormati dan mendukung anda berpuasa, bukan justru teman yang menggoda dan melemahkan niat anda. Tak ada salahnya anda memberitahu sebelumnya bahwa anda berpuasa agar teman anda yang mungkin tidak berpuasa lantaran ‘berhalangan’ bagi perempuan atau memang berbeda keyakinan, bisa memaklumi anda dan mengikuti cara anda mendaki. Andai ternyata teman pendakian anda tidak seperti yang anda harapan, anggap saja itu godaan iman yang harus anda lawan.

Perlengkapan dan Logistik Ringkas
Bawa perlengkapan dan logistik pendakian yang ringkas. Anda harus cerdas memilih dan mengemasnya seringkas mungkin agar anda nyaman membawanya. Pilihan lain, gunakan tenaga porter lokal untuk membantu membawa barang anda. Perlengkapan shalat jangan lupa dibawa. Begitupun dengan suplemen penguat stamina, sebaiknya diminum setelah berbuka atau sahur. Buah kurma kemasan juga masukkan dalam daftar menu anda, dan makanlah beberapa butir saat berbuka biar nuansa Ramadhan tetap kental meski di gunung.

Pemilihan Rute yang Tepat
Sebaiknya pilih rute pendakian umum yang paling mudah, cepat, dan tentu resmi ( baca: legal sesuai aturan pengelolanya dalam hal ini pihak taman nasional ). Buang jauh ambisi mendaki di jalur sulit terlebih berekspedisi membuka jalur pendakian baru saat berpuasa, pasalnya jelas membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih di banding pendakian biasa. Indahkan aturan tertulis yang berlaku di jalur pendakian yang anda pilih, termasuk tabu yang berlaku di masyarakat setempat biar lancar.

Waktu Pendakian yang Pas
Ada 3 waktu pendakian yang bisa anda pilih mulai dari basecamp di desa terakhir. Pertama: Bila anda ingin merasakan berbuka puasa di lereng gunung, sebaiknya mendaki sore hari sekitar pukul 4 sore. Mendakilah dengan santai. Jangan terlalu cepat, jangan pula terlampau lamban. Selingi dengan beberapa kali istirahat sejenak. Menjelang magrib, istirahatlah untuk menyiapkan menu berbuka bersama dan shalat magrib berjamaah. Lalu lanjutkan pendakian hingga puncak. Kedua: Mendaki malam hari setelah teraweh hingga puncak, lalu istirahat atau tidur setelah sahur. Turun dari puncak sore hari. Ketiga: Mendaki setelah sahur dan solat shubuh, lalu istirahat penuh jelang siang hari. Dilanjutkan sore hari jelang magrib atau setelah berbuka dan magriban.

Jaga Puasa Anda
Jaga puasa anda dari hal - hal yang mengurangi apalagi membatalkan puasa anda saat mendaki, seperti bergunjing dan lainnya. Sebenarnya hal ini bukan cuma saat mendaki gunung saja, pun ketika melakukan aktivitas outdoor apapun dan dimanapun.

Bernilai Spritual Plus
Isi kegiatan pendakian puasa anda dengan hal - hal yang memberi nilai spritual plus. Misalnya kalau mendaki saat berpuasa Ramadhan sebisa mungkin tetap melakukan solat taraweh, apalagi dilakukan dengan berjamaah di gunung tentu jadi pengalaman berkesan. Tak lupa menyempatkan waktu untuk tadarusan, mengaji ( membaca Alqur’an ), berzikir, dan salawatan saat beristirahat.

Abadikan Moment
Mendaki gunung saat berpuasa memang bukanlah hal baru. Tapi tetap menjadi sesuatu yang langka karena jarang orang melakukannya. Mengingat faktor tantangannya yang lebih berat, bisa jadi anda melakoninya sekali seumur hidup. Untuk itu abadikanlah moment - moment indah pendakian puasa anda, misalnya saat berbuka ataupun sahur bersama, solat taraweh di gunung dan lainnya dengan kamera foto dan video. Evaluasilah hasil pendakian puasa anda untuk mengetahui kekurangan dan kelebihannya. Lalu sebarkan pengalaman anda ke khalayak, agarpendaki lain memperoleh asupan informasi berharga sebagai modal untuk mendaki gunung saat berpuasa seperti yang anda lakukan.

Mendaki gunung saat berpuasa bukan menjadi pilihan utama. Ini dikhususkan bagi pendaki yang benar - benar siap fisik - mental dan ingin merasakan atmosfir spritual berbeda. Atau kebetulan waktu luang atau libur panjangnya pas puasa Ramadhan.

Prioritas utama, tetaplah berpuasa Ramadhan karena wajib hukumnya bagi muslim / muslimah yang memenuhi syarat. Sementara mendaki gunung cuma urusan dunia, dan itu bukanah hal terpenting. Jadi rasanya keliru bila anda lebih memilih mendaki gunung dibanding berpuasa wajib. Sejatinya, tetap berpuasa Ramadhan meskipun mendaki gunung ataupun berkegiatan petualangan lainnya.

Bila anda mau dan benar - benar siap mendaki gunung saat berpuasa Ramadhan ataupun puasa - puasa sunah lainnya dengan mengikuti panduan di atas, silakah. Tapi ingat, jangan coba - coba tanpa persiapan! Bila tak mampu, sudahlah, berpuasa seperti biasa atau di rumah dan masjid saja.


http://www.belantaraindonesia.org/2011/03/tips-mendaki-gunung-sambil-berpuasa.html?

Rabu, 24 Agustus 2011

Gunung Prahu

Gunung Prahu adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di koordinat 7° 11′ 13″ LS, 109° 55′ 22″ BT.
Gunung itu merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng selain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun, dan Gunung Juranggrawah ini memiliki ketinggian 2.565 meter di atas paras laut.
Gunung ini memiliki kawasan hutan yang masih asri, indah dan terjaga. Di dalamnya terdapat berbagai tumbuhan seperti Kantong Semar, aneka tumbuhan paku dan satwa. Sedangkan di sisi Kabupaten Wonosobo, terdapat berbagai peninggalan masa lalu berupa candi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Prahu

Minggu, 21 Agustus 2011

Panduan Pendaki Bertahan Hidup Kala Tersesat Di Hutan Gunung

Bagi para pendaki gunung ataupun penjelajah, masuk hutan bukanlah hal yang menakutkan atau mengerikan, tapi bagi kita yang bukan seorang penjelajah ataupun pendaki gunung, tersesat di hutan adalah hal yang paling di takuti apabila kita ikut tour naik gunung ataupun ke hutan.

Sekarang, jangan panik ataupun takut bila tersesat di hutan. Menurut suku pedalaman di Sumatera, jangan takut bila tersesat, yang kita perlukan hanyalah belajar dari monyet. Jika sudah di hutan perbekalan Anda habis, makanlah buah-buahan yang ada di hutan yang dimakan monyet, karena buah yang dimakan monyet pasti tidak beracun, tapi jangan makan buah yang tidak mau dimakan monyet karena buah itu beracun.

Lalu jangan khawatir bila tidak bisa memastikan mana timur dan barat. Tipsnya adalah, lihatlah ujung pohon di kawasan hutan itu. Ujung pohon umumnya akan condong ke arah matahari terbit. Jika tidak terlihat jelas, maka tips lainnya adalah melihat lumut di bagian bawah pohon. Lumut yang paling tebal dan hijau, itu pasti bagian timur.

Sedangkan lumut yang tidak terlalu tebal, dipastikan di arah barat. Kalau kita kehausan di tengah hutan dan tidak menemukan sungai, minum saja air dalam lubang sepanjang di dalam lubang ada jentik-jentik nyamuk. Kalau jentik nyamuk saja bisa bertahan hidup dalam air itu, maka kita juga bisa meminum airnya, tapi jika ada air yang bening, namun tidak ada jentiknya, jangan coba-coba untuk kita minum, bisa jadi air itu ada racunnya.

http://www.tdwclub.com/panduan-pendaki-bertahan-hidup-kala-tersesat-di-hutan-gunung

Penyakit Gunung atau Ketinggian (MOUNTAIN OR ALTITUDE SICKNESS) MENDAKI GUNUNG

MENDAKI GUNUNG

Kenikmatan mendaki gunung dan puncak-puncak ketinggian di dunia memang tidak dapat dipungkiri merupakan harapan banyak orang. Namun demikian berada di puncak-puncak ketinggian di dunia ada bahaya/resiko yang bisa dialami manusia yaitu bahaya timbulnya penyakit karena berada di ketinggian (Altitude or Mountain Sickness). Penyakit ketinggian dapat terjadi pada beberapa orang ketika berada di ketinggian minimal 2.500 m dpl, tetapi gejala serius bisa saja tidak terjadi hingga berada di ketinggian 3.000 m dpl. Namun demikian di banyak kasus ketinggian pada dasarnya tidaklah penting tetapi seberapa cepat kita mendaki ke ketinggian tersebut.

Penyakit Akut di Pegunungan (Acute Mountain Sickness (AMS)) ini sebenarnya lebih sering terjadi pada pria muda yang terlalu bersemangat karena mereka lebih cenderung untuk mencoba melakukan pendakian cepat dengan berlari menaiki gunung seperti beberapa super hero yang nekad. Mengikuti petunjuk umum pendakian jauh lebih aman (dan lebih menyenangkan) untuk menghindari penyakit ketinggian dengan merencanakan jadwal yang masuk akal yang memungkinkan untuk aklimatisasi bertahap untuk ketinggian saat kita mendaki, (Kita dapat turun ke daerah yang lebih rendah secepat yang kita inginkan!).

Apa itu Ketinggian (High Altitude) ?

Sulit untuk menentukan siapa yang mungkin akan terpengaruh oleh penyakit ketinggian karena tidak ada faktor-faktor tertentu seperti usia, jenis kelamin, atau kondisi fisik yang berkorelasi dengan kerentanan seseorang terhadap sakit karena ketinggian. Beberapa orang menjadi rentan tetapi beberapa orang lainnya tidak rentan karena berada di tempat-tempat yang tinggi.

Kebanyakan orang bisa naik ke 2.500 meter dpl. dengan efek sedikit atau tidak ada. Jika kita telah berada di ketinggian yang sebelumnya tanpa masalah, kita mungkin dapat kembali ke ketinggian yang sama tanpa masalah selama kita benar-benar berkalimatisasi. Jika kita belum berkunjung ke ketinggian tinggi sebelum, kita harus berhati-hati ketika melakukannya.

Penyebab Penyakit Ketinggian

Persentase oksigen di atmosfer di permukaan laut adalah sekitar 21% dan tekanan udara adalah sekitar 1000MB (760 mmHg).

Seiring dengan peningkatan ketinggian, persentase tetap sama tetapi jumlah molekul oksigen per sekali menarik napas akan berkurang. Pada 3.600 meter dpl tekanan udara hanya sekitar 630 mb (480 mmHg), jadi ada molekul oksigen sekitar 40% lebih sedikit per sekali menarik napas sehingga tubuh harus menyesuaikan untuk memiliki oksigen kurang.

Selain itu, tekanan udara lebih rendah pada ketinggian yang lebih tinggi dapat menyebabkan cairan bocor dari kapiler di kedua paru-paru dan otak yang dapat menyebabkan cairan keluar dan membanjiri paru-paru atau otak. Melanjutkan ke ketinggian yang lebih tinggi tanpa aklimatisasi yang tepat dapat menyebabkan penyakit, berpotensi serius bahkan mengancam jiwa di ketinggian.

Aklimatisasi (Acclimatisation)

Penyebab utama penyakit ketinggian ini jika kita terlalu cepat mencapai tempat-tempat ketinggian. Apabila kita cukup waktu untuk mencapai tempat-tempat yang tinggi, tubuh kita akan beradaptasi dengan penurunan oksigen di ketinggian tertentu. Proses ini dikenal sebagai aklimatisasi dan umumnya membutuhkan satu sampai tiga hari pada setiap ketinggian tertentu, misalnya jika kita naik sampai 3.000 meter dpl dan menghabiskan beberapa hari di ketinggian itu, tubuh kita akan menyesuaikan diri sampai 3.000 meter. Jika kita kemudian naik ke 5.000 meter dpl. tubuh kita harus menyesuaikan diri sekali lagi, demikian seterusnya.

Beberapa perubahan yang akan terjadi dalam tubuh kita yang memungkinkan untuk mengatasi dengan penurunan oksigen di udara :
Meningkatnya kedalaman bernafas.
Tubuh memproduksi lebih banyak sel darah merah (haemoglobin) untuk membawa oksigen.
Tekanan dalam kapiler paru meningkat, "memaksa" darah ke bagian paru-paru yang biasanya tidak digunakan ketika bernapas di permukaan laut.
Tubuh memproduksi lebih dari enzim tertentu yang menyebabkan pelepasan oksigen dari hemoglobin ke jaringan tubuh.

Pernapasan Periodik Selama Tidur (Cheyne-Stokes respirasi)

Di atas 3.000 meter dpl kebanyakan orang mengalami pernapasan periodik selama tidur yang dikenal sebagai respirasi Cheyne-Stokes. Pola ini dimulai dengan beberapa napas pendek dan meningkat menjadi respirasi mendesah dalam-dalam kemudian jatuh dengan cepat bahkan berhenti sama sekali selama beberapa detik dan kemudian napas pendek mulai lagi. Selama periode ketika bernapas berhenti orang sering menjadi gelisah dan mungkin terbangun dengan perasaan tiba-tiba sesak napas. Hal ini dapat mengganggu pola tidur, melelahkan pendaki. Jenis pernapasan tidak dianggap normal di ketinggian. Acetazolamide sangat membantu dalam mengurangi pernapasan periodik.

Penyakit Akut di Pegunungan (Acute Mountain Sickness (AMS))

AMS adalah sangat umum di ketinggian tinggi. Pada lebih dari 3.000 meter dpl 75% orang akan mengalami gejala ringan. Terjadinya AMS tergantung pada elevasi, laju pendakian, dan kerentanan individu. Banyak orang akan mengalami AMS ringan selama proses aklimatisasi. Gejala biasanya mulai 12 sampai 24 jam setelah tiba di ketinggian dan mulai penurunan keparahan sekitar hari ketiga.

Gejala AMS ringan meliputi:
Sakit kepala
Mual & Pusing
Kehilangan nafsu makan
Kelelahan
Sesak napas
Tidur terganggu
Perasaan malaise Umum

Gejala cenderung lebih buruk pada malam hari dan ketika irama pernapasan menurun. AMS ringan tidak mengganggu aktivitas normal dan gejala umumnya mereda dalam waktu dua sampai empat hari sebagai aklimatisasi tubuh. Selama terjadinya gejala yang ringan, dan hanya mengganggu, pendakian dapat melanjutkan pada tingkat moderat. Ketika hiking, adalah penting bahwa Anda berkomunikasi gejala penyakit segera untuk orang lain pada perjalanan Anda.



AMS Sedang

Tanda-tanda dan gejala AMS Sedang meliputi:
Sakit kepala parah yang tidak berkurang dengan obat-obatan
Mual dan muntah kelemahan, meningkatkan dan kelelahan
Sesak napas
Penurunan koordinasi (ataksia).

Aktivitas yang normal sulit, meskipun orang masih dapat berjalan sendiri. Pada tahap ini, hanya obat-obatan canggih atau keturunannya dapat membalikkan masalah. Turun ke tempat yang lebih rendah hanya 300 meter dpl akan menghasilkan beberapa perbaikan, dan dua puluh empat jam pada ketinggian yang lebih rendah akan menghasilkan perbaikan yang signifikan. Orang harus tetap di ketinggian rendah sampai semua gejala sudah reda (sampai 3 hari). Pada titik ini, orang telah menyesuaikan dengan iklim untuk ketinggian itu dan dapat mulai mendaki lagi.

Tes terbaik untuk AMS sedang adalah menyuruh seseorang yang terkena AMS sedang berjalan dengan tumit sampai ujung kaki membentuk garis lurus seperti yang dilakukan pada tes kesadaran. Seseorang dengan ataksia tidak akan mampu berjalan lurus. Ini merupakan indikasi yang jelas bahwa turun ke ketinggian yang lebih rendah perlu segera dilakukan. Hal ini penting untuk menghindari sebelum ataksia mencapai titik di mana mereka tidak bisa berjalan sendiri (yang akan memerlukan evakuasi tandu).

AMS Parah

AMS parah hasil dalam peningkatan keparahan gejala tersebut termasuk : Sesak napas saat istirahat, Ketidakmampuan untuk berjalan, Penurunan status mental, Bocor cairan di paru-paru, AMS parah membutuhkan turun ke tempat yang lebih rendah secepatnya dari ketinggian sekitar 600 meter dpl dan ke ketinggian yang lebih rendah lagi.

Ada dua kondisi serius yang berhubungan dengan ketinggian AMS parah : High Altitude Cerebral Edema (HACO) dan High Altitude Edema Paru (HAPO). Yang kedua yang lebih sering terjadi, terutama bagi mereka yang mampu beradaptasi terhadap iklim. Tapi, ketika mereka lakukan terjadi, biasanya pada orang yang terlalu tinggi terlalu cepat atau pendakian pada daerah yang sangat tinggi dan tinggal di sana. Dalam kedua kasus kurangnya hasil oksigen kebocoran cairan melalui dinding kapiler menjadi baik paru-paru atau otak.

High Altitude Edema Paru (HAPO)

HAPO hasil dari cairan yang terbentuk di paru-paru. Cairan ini mencegah pertukaran oksigen yang efektif. Ketika kondisi menjadi lebih parah, tingkat oksigen dalam aliran darah berkurang, yang menyebabkan sianosis, gangguan fungsi otak, dan kematian.

Gejala HAPO meliputi :
Sesak napas pada saat istirahat
Sesak di dada, dan batuk terus-menerus membesarkan cairan putih, berair, atau berbusa
Ditandai kelelahan dan kelemahan
Perasaan sesak napas yang akan datang di malam hari
Kebingungan, dan perilaku irasional

Kebingungan, dan perilaku irasional adalah tanda-tanda bahwa oksigen tidak cukup mencapai otak. Salah satu metode untuk pengujian diri sendiri untuk HAPO adalah untuk memeriksa waktu pemulihan kita setelah pengerahan tenaga. Dalam kasus HAPO, turun ke tempat yang lebih rendah secepatnya sekitar 600 meter dpl adalah diperlukan untuk menyelamatkan nyawa. Siapapun yang menderita HAPO harus dievakuasi ke fasilitas medis untuk tindak lanjut yang tepat pengobatan.

Pernahkah kita, atau seseorang yang kita kenal, menderita HAPO atau hape (ketinggian edema paru tinggi / edema)? Kemudian bergabung dengan "Database Internasional HAPE" registri di seluruh dunia HAPE penderita sebelumnya yang mungkin mempertimbangkan berpartisipasi dalam studi penelitian masa depan. Untuk informasi lebih lanjut, ikuti link ini: - "International HAPE Registry"



Cerebral Edema Tinggi Ketinggian (HACO)

HACO adalah hasil dari pembengkakan jaringan otak dari kebocoran cairan.

Gejala HACO meliputi:
Sakit kepala
Kelemahan
Disorientasi
Kehilangan koordinasi
Penurunan tingkat kesadaran
Kehilangan memori
Halusinasi & perilaku psikosis
Coma.

Ini umumnya terjadi setelah seminggu atau lebih pada ketinggian tinggi. Kasus berat dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Turun ke tempat yang lebih rendah dengan segera sekitar 600 meter dpl adalah upaya menyelamatkan nyawa yang diperlukan. Ada beberapa obat yang dapat digunakan untuk pengobatan di lapangan, tapi ini memerlukan pelatihan yang tepat dalam penggunaannya.

Siapapun yang menderita HACO harus dievakuasi ke fasilitas medis untuk tindak lanjut pengobatan.



Pencegahan Penyakit Ketinggian

Ini melibatkan aklimatisasi yang tepat dan kemungkinan penggunaan obat-obatan.

BEBERAPA PEDOMAN DASAR UNTUK PENCEGAHAN AMS:
Jika mungkin, jangan berlari atau mendaki terlalu cepat untuk ketinggian tinggi. Mulai di bawah 3.000 meter dpl dan seterusnya.
Jika kita mendaki terlalu cepat, jangan terlalu percaya diri atau bergerak lebih tinggi selama 24 jam pertama.
Jika kita mendaki di atas 3.000 meter dpl, hanya meningkatkan ketinggian 300 meter dpl dengan per hari, dan untuk setiap 900 meter dpl dari elevasi yang diperoleh, mengambil hari istirahat untuk menyesuaikan diri.
Mendaki ke tempat tinggi dan tidur di tempat yang lebih rendah! Kita bisa naik lebih dari 300 meter dpl dalam satu hari selama kita kembali turun dan tidur di ketinggian yang lebih rendah rendah.
Jika kita mulai menunjukkan gejala penyakit ketinggian moderat, jangan mendaki lebih tinggi sampai gejala penyakit berkurang.
Jika gejala meningkat, turun, turun, dan turun ke tempat yang lebih rendah !
Perlu diingat bahwa orang yang berbeda ketahanannya berada pada ketinggian yang berbeda. Pastikan setiap orang dalam tim kita benar-benar mampu menyesuaikan dengan iklim dan ketinggian sebelum mendaki ke tempat yang lebih tinggi.
Tetap terhidrasi dan minum dengan baik. Aklimatisasi sering disertai dengan kehilangan cairan, sehingga kita perlu untuk minum banyak cairan untuk tetap terhidrasi dengan baik (setidaknya 4-6 liter per hari). Output urin harus berlimpah dan jernih, kuning pucat.
Tenang dan tidak melapun atau berbangga diri sendiri ketika kita pertama kali mendapatkan hingga ketinggian tertentu. Tapi, beraktivitas pada cahaya di siang hari adalah lebih baik daripada tidur karena pernapasan menurun selama tidur, memperburuk gejala.
Hindari tembakau, alkohol dan obat-obatan depresan lainnya termasuk, barbiturat, penenang, obat tidur dan opiat seperti dihydrocodeine. Ini lebih lanjut menurunkan rithme pernapasan saat tidur yang mengakibatkan memburuknya gejala.
Makan makanan berkalori tinggi sementara pada ketinggian.
Ingat: Aklimatisasi dihambat oleh kelelahan, dehidrasi, dan alkohol.

Pencegahan Pengobatan

Acetazolamide (Diamox): Ini adalah obat yang paling dicoba dan diuji untuk pencegahan dan pengobatan penyakit ketinggian. Tidak seperti dexamethasone (di bawah) obat ini tidak menutupi gejala namun sebenarnya memperlakukan masalah. Tampaknya bekerja dengan meningkatkan jumlah alkali (bikarbonat) diekskresikan dalam urin, membuat darah lebih asam. Acidifying darah drive ventilasi, yang merupakan landasan aklimatisasi.

Untuk pencegahan, 125 sampai 250 mg dua kali sehari mulai satu atau dua hari sebelum dan berlanjut selama tiga hari setelah ketinggian tertinggi tercapai, efektif. Darah konsentrasi puncak acetazolamide antara satu sampai empat jam setelah pemberian tablet.

Penelitian telah menunjukkan bahwa pemberian profilaksis acetazolamide pada dosis 250 mg setiap delapan sampai dua belas jam sebelum dan selama pendakian cepat untuk hasil ketinggian dalam waktu kurang dan / atau kurang gejala berat (seperti sakit kepala sesak, mual, napas, pusing, mengantuk, dan kelelahan) penyakit gunung akut (AMS). Fungsi paru lebih besar baik pada subyek dengan AMS ringan dan subyek tanpa gejala. Para pendaki diperlakukan juga mengalami kesulitan kurang tidur.

Pendakian bertahap selalu diinginkan untuk mencoba untuk menghindari penyakit akut gunung tetapi jika pendakian cepat dilakukan dan actazolamide digunakan, harus dicatat bahwa penggunaan tersebut tidak meniadakan kebutuhan untuk turun ke tempat yang lebih rendah jika bentuk parah penyakit ketinggian tinggi terjadi, yaitu paru atau edema serebral.

Efek samping dari acetazolamide mencakup: kesemutan tidak nyaman jari, jari kaki dan mencicipi minuman berkarbonasi wajah datar; buang air kecil yang berlebihan, dan jarang, mengaburkan visi.

Pada kebanyakan treks, pendakian bertahap profilaksis adalah mungkin dan cenderung putus asa. Tentu saja jika trekker mengalami peningkatan sakit kepala dan mual atau gejala lain dari AMS, maka pengobatan dengan acetazolamide cukup baik. Dosis pengobatan 250 mg dua kali sehari selama sekitar tiga hari.

Sebuah kursus sidang dianjurkan sebelum pergi ke lokasi terpencil di mana reaksi alergi yang parah bisa membuktikan sulit untuk mengobati jika terjadi.

Deksametason (steroid) adalah obat yang menurunkan pembengkakan otak dan membalikkan efek dari AMS. Dosis biasanya 4 mg dua kali sehari selama beberapa hari dimulai dengan pendakian. Hal ini mencegah sebagian besar gejala penyakit ketinggian berkembang.

PERINGATAN: Deksametason adalah obat kuat dan harus digunakan dengan hati-hati dan hanya atas saran dari dokter dan hanya harus digunakan untuk membantu aklimatisasi oleh orang-orang cukup memenuhi syarat atau mereka dengan pengalaman yang diperlukan penggunaannya.

Pengobatan AMS

Satu-satunya obat untuk penyakit gunung adalah baik aklimatisasi atau turun ke tempat yang lebih rendah

Gejala AMS ringan dapat diobati dengan pembunuh rasa sakit untuk sakit kepala, acetazolamide dan deksametason. Ini membantu untuk mengurangi keparahan gejala, tapi ingat, mengurangi gejala tidak menyembuhkan masalah dan bahkan bisa memperburuk masalah dengan menutupi gejala lain.

Acetazolamide memungkinkan Anda untuk bernapas lebih cepat sehingga Anda metabolisme lebih banyak oksigen, sehingga meminimalkan gejala-gejala yang disebabkan oleh oksigenasi miskin yang sangat membantu pada malam hari ketika drive pernapasan menurun.

Acetazolamide dapat diperoleh pada resep di Inggris dari Dokter Fox

Deksametason: ini obat steroid yang kuat dapat menyelamatkan jiwa pada orang dengan HACO, dan bekerja dengan mengurangi pembengkakan dan mengurangi tekanan dalam tengkorak. Dosis 4 mg tiga kali per hari, dan perbaikan biasanya terjadi dalam waktu yang jelas sekitar enam jam. Obat ini "membeli waktu" terutama pada malam hari ketika mungkin bermasalah untuk turun. Descent harus dilakukan hari berikutnya. Tidaklah bijaksana untuk naik saat mengambil deksametason: tidak seperti Diamox obat ini hanya topeng gejala.

Deksametason dapat sangat efektif: banyak orang yang lesu atau bahkan koma akan meningkatkan secara signifikan setelah tablet atau suntikan, dan bahkan mungkin dapat turun dengan bantuan. Banyak peziarah di festival tahunan di Gosainkunda danau di Nepal menderita HACO mengikuti pesatnya laju pendakian, dan merespon sangat baik untuk deksametason. Pendaki gunung juga kadang-kadang membawa obat ini untuk mencegah atau mengobati AMS. Perlu digunakan hati-hati, bagaimanapun, karena dapat menyebabkan iritasi lambung, euforia atau depresi.

Ini mungkin ide yang baik untuk paket obat ini untuk perjalanan ketinggian tinggi untuk penggunaan darurat dalam hal terjadi HACO Pada orang alergi terhadap obat sulfa (dan karena itu tidak mengambil Diamox) deksametason juga dapat digunakan untuk pencegahan: 4 mg dua kali sehari selama sekitar tiga hari mungkin cukup.

Obat lain yang digunakan untuk mengobati penyakit ketinggian meliputi:

Ibuprofen yang efektif dalam menghilangkan sakit kepala akibat ketinggian. (600mg tiga kali sehari).



Nifedipine: Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi. Dengan cepat menurunkan tekanan arteri pulmonalis dan tampaknya juga dapat mengurangi penyempitan di arteri paru-paru yang disebabkan oleh kadar oksigen rendah, dengan demikian meningkatkan mentransfer oksigen. Oleh karena itu dapat digunakan untuk mengobati HAPO, meskipun sayangnya efektivitasnya tidak mana saja dramatis bahwa deksametason di HACO. Dosis 20mg nifedipin bertindak panjang, enam sampai delapan jam.

Nifedipine dapat menyebabkan penurunan mendadak tekanan darah sehingga pasien harus diperingatkan untuk bangun perlahan dari duduk atau posisi berbaring. Ini juga telah digunakan dalam dosis yang sama untuk mencegah HAPO pada orang dengan riwayat penyakit ini.

Frusemid dapat menghapus paru-paru air di HAPO dan sebaliknya penindasan urin disebabkan oleh ketinggian. Namun, furosemid juga dapat menyebabkan keruntuhan dari kejutan volume rendah jika korban sudah mengalami dehidrasi. Dosis 120 mg setiap hari pengobatan.

Pernapasan Oksigen · 100% juga mengurangi efek dari penyakit ketinggian.

Para Gamow Bag

Penemuan ini telah merevolusi pengobatan pintar bidang penyakit ketinggian. Tas terdiri dari ruang tertutup dengan pompa. Korban ditempatkan di dalam kantong dan mengembang dengan memompa penuh dengan udara secara efektif meningkatkan konsentrasi oksigen dan karena itu simulasi turun ke tempat yang lebih rendah.

Dalam sesedikit 10 menit tas bisa menciptakan "suasana" yang sesuai dengan tempat yang lebih rendah pada 900 sampai 1.500 meter dpl lebih rendah. Setelah dua jam di dalam tas, kimia tubuh seseorang akan memiliki "reset" ke ketinggian yang lebih rendah. Aklimatisasi ini berlangsung sampai 12 jam di luar tas yang harus cukup waktu untuk membuat mereka turun ke ketinggian yang lebih rendah dan memungkinkan untuk aklimatisasi lebih lanjut.

Tas dan pompa bersama-sama berat sekitar 6,5 kilogram (15 pon) dan sekarang dilakukan pada sebagian besar ekspedisi ketinggian tinggi. Tas dapat disewa untuk jangka pendek atau treks ekspedisi.

Doctor Fox: Diamox (Acetazolamide) untuk penyakit ketinggian, paksa dan gangguan aklimatisasi ketinggian tidur. Obat dengan resep dari farmasi NHS

http://caculsangpendaki.blogspot.com/2011/07/penyakit-gunung-atau-ketinggian.html